Senin, 12 Juni 2017

Menyembuhkan Akar Kemarahan



Sebuah pekerjaan rumah umat manusia yang tidak selesai-selesai sejak dulu sekali adalah menyembuhkan akar kemarahan. Padahal, norma-norma agama sudah dibuat selama ribuan tahun, institusi penjara juga berumur ribuan tahun, ilmu psikologi yang berumur tua juga ikut mau menyembuhkan kemarahan, namun tetap saja kemarahan tidak menunjukkan tanda-tanda menurun. Dalam beberapa bagian, kemarahan manusia bahkan semakin parah.

Kendati demikian sulit dan rumitnya menyembuhkan akar kemarahan, namun tetap tidak ada salahnya untuk mencoba lagi dan lagi. Dalam teropong filosofi Timur, jika kemarahan diibaratkan dengan sebuah pemerintahan, presidennya bernama avidya (ketidaktahuan), menteri koordinatornya bernama kerumitan dan kebencian. Bersama-sama mereka membuat dunia semakin gelap dari hari ke hari.

Yang dimaksud ketidaktahuan dalam hal ini, bukanlah ketidaktahuan karena tidak memiliki ijazah. Bukanlah ketidaktahuan karena seseorang tidak pernah membaca. Tapi ketidaktahuan yang bersumber dari pikiran yang tidak bersih sekaligus tidak jernih. Di zaman ini, salah satu kekuatan hebat yang ada di balik pikiran yang jauh dari jernih dan bersih adalah keinginan yang tanpa batas.

Ia yang berjalan kaki mau punya motor. Setelah punya motor mau punya mobil. Setelah naik Kijang mau naik BMW. Begitulah cara keinginan merubah kehidupan menjadi lautan kesedihan yang tidak bertepi. Akibat langsung dari semua ini, kehidupan bertumbuh sangat rumit. Ia diperparah lagi oleh kebiasaan untuk membandingkan ke atas. Perpaduan antara kerumitan dan kehencian inilah yang terus menerus membakar api kemarahan di dalam.

Namun jangan berkecil hati. Di alam ini semua ada penyeimbangnya. Api penyeimbangnya air. Sampah penyeimbangnya bunga indah. Orang jahat penyeimbangnya orang baik. Demikian juga dengan kemarahan. Asal tekun dan tulus melatih diri dengan jalan meditasi khususnya, ada kemungkinan seseorang akan sembuh dari akar kemarahan.

Salah satu perlambang sederhana namun mendalam dalam hal ini adalah tukang taman organik. Semua yang ada di luar maupun di dalam adalah bahan-bahan organik yang bisa diolah. Bahan-bahan di luar adalah memandang orang yang menimbulkan kemarahan sebagai jiwa yang penuh penderitaan. Di balik penderitaan mereka ada jejaring rumit seperti keluarga bermasalah dan sekolah penuh musibah. Begitu jejaring rumit ini terbuka, di sana ada kemungkinan mekarnya bunga kasih sayang.

Bahan-bahan yang tersedia di dalam lain lagi. Pertama, kapan saja kemarahan berkunjung, cepat terhubung dengan jangkar yang menghubungkan pikiran dengan pantai kedamaian. Jangkar itu bernama nafas. Kedua, terima kemarahan sebagai bagian dari diri Anda. Ketiga, dekap kemarahan seperti seorang ibu mendekap putra tunggalnya.

Sebagai mana pernah ditulis oleh banyak buku suci, ada banyak rahasia yang disembunyikan di balik nafas. Dalam konteks kemarahan, nafas itu membawa udara segar ke dalam diri seseorang yang sedang terbakar. Ia membuat ruang pikiran yang pengap seperti mendapatkan udara segar kembali. Lebih-lebih kalau nafas dikombinasikan dengan kesadaran bahwa kemarahan bukan musuh, tapi bagian dari diri kita.

Di psikologi ada ungkapan tua yang berbunyi: “What you resist persist”. Apa yang Anda lawan akan melawan balik dengan kekuatan yang lebih besar. Saat seseorang sakit kepala, tidak ada dokter yang menyarankan untuk membuang kepala. Semua dokter menyarankan untuk merawat kepala. Demikian juga dengan kemarahan. Lupakan ide membuang kemarahan. Rawat kemarahan seperti seorang ibu merawat putra tunggalnya.

Siapa saja yang tekun dan tulus berlatih seperti ini selama puluhan tahun, di sana ada kemungkinan kerumitan digantikan oleh kesederhanaan, kebencian digantikan oleh kebaikan. Dan yang paling penting ketidaktahuan (avidya) diterangi cahaya pengetahuan (vidya). Tidak seperti Guru di sekolah yang menerangi murid dengan kata-kata pinjaman dari luar, cara menyembuhkan kemarahan seperti ini akan membuat seseorang bisa menerangi diri dari dalam. Tetua Bali menyebutnya meshiva raga. Berguru pada Cahaya Tuhan yang ada di dalam.

Penulis: Guruji Gede Prama.

Rabu, 31 Mei 2017

Lirik Lagu NYAME Nanoe Biroe

Lirik dan Lagu NYAME
》》Nanoe Biroe《《

Tusing merasa galah mejalan
Mejalan nyalanang kehidupan...
Ne jani sube pade mekurenan
Inget dugas cenik irage sai meplayan...
Meplayan guli meleli nunjuk layangan...
Liu ne berubah to dadi kenangan..

REFF:

Adene sing berubah
Rase irage menyame
Jele melah enu menyame..
Suke duke tetep menyame

Mogi sing ker berubah
Rase irage menyame...
Asah asih asuh menyame..
Nganti mati tetep menyame....

Diastun irege me'ejohan...
Rase menyame mebesikan...
Menyame saling merindukan...
Menyame saling memaafkan...

Inget dugas pidan medaarang barengan..
Tipan abesik mesare ditu barengan..
Liu ne merubah te dadi kenangan..

Adene sing berubah.....
Rase irage menyame...
Jele melah enu menyame..
Suke duke tetep menyame

Mogi sing ker berubah
Rase irage menyame...
Asah asih asuh menyame..
Nganti mati tetep menyame....

Nganti kiamat nu menyame...
Tusing ade bekas menyame....

Sabtu, 20 Mei 2017

Guyonan Hari Ini

🐣🐣 *GUYONAN* πŸ₯πŸ₯
Copas dr WA group.

Yang bikin wanita itu *CANTIK* adalah hurup *C*. Kalau tanpa hurup *C*, jadi *ANTIK* simpan di museum aja.
πŸ˜œπŸ˜€πŸ˜›πŸ˜„πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Yang bikin *LAKI-LAKI* itu gagah adalah hurup *L*. Kalau tanpa hurup *L*, pasti sudah *AKI-AKI* tidak gagah lagi alias peot, kriput.
πŸ˜œπŸ˜€πŸ˜„πŸ˜›πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Yang bikin *BEBEK GORENG* itu enak adalah hurup *B*. Kalau gak ada huruf *B*, jadi *EEK GORENG*
πŸ˜œπŸ˜€πŸ˜„πŸ˜œπŸ˜›πŸ˜›πŸ˜„ weleh sapa yang doyan.....

Yang bikin *BIDADARI-BIDADARI* itu indah, ya *DADA*-nya.
Kalau gak ada *DADA*-nya, ya... πŸ˜›πŸ˜œπŸ˜„πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜„πŸ˜œπŸ˜œ... *BIRI-BIRI*
πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘ bauuu.

*Kata bapak2* :
"Punya isteri itu beda sama punya HP kalau HP makin lama, makin turun nilainya..........
Kalau isteri makin lama makin naik nilainya .....................
Baik nilai timbangannya, maupun nilai belanjanya."
πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›πŸ‘πŸ˜›

*Kata ibu2* :
"Punya suami itu kayak piara mobil. Makin lama makin rewel, boros dan....... makin sulit  dihidupkannya...."
πŸ˜«πŸ˜›..

Sabtu, 08 April 2017

Manfaat Pengucapan Mantra “Om Namah Shivaya”

Mantra “Om Namah Shivaya” Memiliki Kandungan Kekuatan Luar Biasa


Secara literal dalam bahasa sansekerta “Om Namah Shivaya” berarti saya mohon perlindungan, tuntunan dan keselamatan dari Dewa Shiva. Tapi maknanya tidak hanya sampai disitu. 

Mantra “Om Namah Shivaya” memiliki kandungan kekuatan luar biasa, dimana setiap suku kata mempunyai karunia tersendiri dalam menyelamatkan jiwa dari belenggu pikiran dan belenggu samsara.

Mantra “Om Namah Shivaya” adalah panca aksara sebagai karunia kemaha-sucian tertinggi Dewa Shiva sebagai keseluruhan alam semesta kepada jiwa-jiwa. Na berarti karunia Beliau, Ma berarti alam semesta, Si adalah Shiva, Va mengungkap rahasia karunia-Nya dan Ya adalah jiwa.

Mantra “Om Namah Shivaya” adalah panca aksara sebagai seluruh alam semesta itu sendiri yang terdiri dari lima unsur dasar [panca maha bhuta], yaitu : Na adalah unsur padat [pertiwi], Ma adalah unsur air [apah], Si adalah unsur cahaya [teja], Va adalah unsur udara [bayu] dan Ya adalah unsur ruang [akasha].

Mantra “Om Namah Shivaya” juga adalah panca aksara yang terkait langsung dengan prinsip-prinsip yang mengatur masing-masing dari lima lapisan badan kita [panca maya kosha], yaitu Na terkait pada badan Ε…sik [annamayakosha], Ma terkait pada badan prana [pranamayakosha], Shi terkait pada badan pikiran [manomayakosha], Va terkait pada badan kebijaksanaan [vijnanamaya kosha] dan Ya terkait pada badan kesadaran [anandamayakosha]. Sedangkan pranava mantra Om / Aum di depan terkait pada Atman.

Dan yang terpenting, saat kita mengucapkan mantra “Om Namah Shivaya”, kita sesungguhnya sedang melakukan upaya mengakses energi mahasuci kesadaran kosmik Dewa Shiva. Dengan kata lain, kita sedang mengucapkan makna rahasia yang tersembunyi di dalam inti kesadaran kosmik Dewa Shiva.

Kesadaran kosmik adalah keadaan ketika kesadaran jiwa menjadi stabil dan kesadaran mengamati hadir sepanjang waktu dalam kondisi terbangun, bermimpi, dan tertidur.

Manfaat Pengucapan Mantra “Om Namah Shivaya”
Ada manfaat yang demikian berlimpah dari kemuliaan pengucapan mantra ini, yang terbagi menjadi tiga rentang waktu ketekunan kita di dalam melakukan pengucapan mantra :

1. Manfaat seketika
Bila kita melakukan penjapaan mantra “Om Namah Shivaya” dengan tepat, maka ini adalah beberapa manfaat seketika yang dicapai, yaitu :
  1. Sewaktu kita menjapa mantra “Om Namah Shivaya”, kita mengisi pikiran kita dengan limpahan energi-energi mahasuci dari kesadaran kosmik Dewa Shiva. Ini membuat badan dan pikiran kita lebih murni dan tingkat kesadaran kita secara niskala lebih tinggi. Karena kita melakukan upaya mengakses energi mahasuci kesadaran kosmik.
  2. Penjapaan mantra “Om Namah Shivaya” akan membangun keteguhan dan kejernihan pikiran kita, karena penjapaan mantra membuat riak-riak pikiran dan cengkraman energi buruk mereda di dalam diri kita. Sehingga kita tidak lagi rapuh atau emosional menghadapi pengaruh keadaan yang buruk diluar, serta pikiran tidak lagi berkeliaran kemana-mana. Ketika kondisi ini tercapai, maka kita mendapatkan ketenangan pikiran.


2. Manfaat jangka waktu tertentu
Bila kita tekun melakukan penjapaan mantra “Om Namah Shivaya” dan dengan cara yang tepat, maka ini adalah beberapa manfaat yang akan dicapai dalam jangka waktu tertentu, yaitu :
  1. Mantra ini dapat mengembalikan semua tulah kutukan dan mantra lainnya yang berusaha melukai kita, semua hal yang berupa rintangan dan tidak baik akan dilontarkan kembali pada asalnya. Mantra ini memberi perlindungan dari kekuatan-kekuatan negatif.
  2. Seiring waktu ketekunan penjapaan mantra”Om Namah Shivaya” dapat meredakan keliaran pikiran kita, seperti keserakahan, rasa takut, trauma, keinginan-keinginan liar, iri hati, marah dan benci. Disinilah dampak awal penjapaan mantra akan mulai dirasakan, dimana dalam kehidupan sehari-hari pikiran dan emosi negatif akan terkikis, serta obyek-obyek indriya juga akan kehilangan cengkeramannya kepada pikiran kita. Karena energi dari penjapaan mantra mengharmoniskan energi pikiran kita. Pikiran kita akan lebih tenang-seimbang. Tersembuhkan dari ketidakstabilan jiwa seperti sifat emosional, pendendam, halusinasi, dsb-nya.
  3. Mantra ini membersihkan setiap kerak kekotoran diri dan karma buruk yang kita lakukan. Menjapa mantra “Om Namah Shivaya” dengan tekun dan pikiran terfokus akan mengikis karma buruk. Pengikisan karma buruk memiliki dampak yang membuat kita dapat mengalami peningkatan ke arah lebih baik, lebih lancar dan lebih terang dalam berbagai bidang kehidupan.
  4. Bila sadhana ini terus rutin kita lakukan di rumah kita dalam jangka waktu tertentu, juga akan bermanfaat untuk membersihkan lingkungan rumah dari pengaruh energi buruk. Penjapaan mantra akan menghasilkan pola getaran energi mantra yang suci yang menetralisir pengaruh energi buruk di sekitar kita. Dengan semakin sering dan konsisten kita melakukan japa mantra, hasilnya akan memberi pengaruh lebih baik kepada rumah tempat tinggal kita.
  5. Menjapa mantra “Om Namah Shivaya” dengan tekun dan pikiran terfokus, akan dapat menyentuh hati dan menggugah Dewa Shiva secara langsung, sehingga Beliau berkenan hadir dan menampakkan diri kepada kita. Cahaya-Nya akan membantu menerangi dan membebaskan kita dari kegelapan dalam bentuk godaan-godaan duniawi yang tidak ada habis-habisnya ini.


3. Manfaat jangka panjang
Bila kita selalu terus-menerus tekun melakukan penjapaan mantra “Om Namah Shivaya” dan dengan cara yang tepat, maka dalam jangka waktu yang panjang ini adalah beberapa manfaat yang akan dicapai, yaitu :
  1. Mantra ini menumbuhkan sifat welas asih dan kebijaksanaan. Dengan semakin berkembangnya sifat-sifat sattvika di dalam diri kita, maka kemahasucian dari kesadaran kosmik Dewa Shiva perlahan akan semakin nyata kita hadirkan dalam jiwa.
  2. Dapat menghasilkan kontak yoga antara kekuatan kesadaran di dalam diri dan kekuatan Dewa Shiva. Dengan kata lain mencapai “penyatuan dewa dan manusia”, dimana kekuatan penyatuan ini dapat menghasilkan karunia-karunia luar biasa seperti terbukanya trinetra [mata ketiga], atau karunia dapat mengunjungi alam-alam Dewa, memperoleh ajaran rahasia Beliau, dsb-nya.
  3. Menjapa mantra “Om Namah Shivaya” dengan tekun dan pikiran terfokus, maka sewaktu meninggal dunia, Dewa Shiva akan muncul untuk menjemput kita ke alam suci-Nya [Shiva Loka]. Tidak hanya di masa kini, tapi para orang-orang suci di masa lampau juga telah mengkonΕ…rmasi bahwa karunia dari menjapa mantra “Om Namah Shivaya” sungguh besar, sehingga dapat melenyapkan semua karma buruk kita yang tertumpuk dari masa lampau yang tak terhingga. Disaat kita mengalami kematian akan mendapat perlindungan dari Dewa Shiva di alam suci-Nya. Ini tentu sebuah karunia perlindungan, tuntunan dan keselamatan yang luar biasa.

Semoga Bermanfaat..!!!


Disyukuri walau Terbaca setelah semua terjadi



"Penemuan Mutakhir di USA yg Menggemparkan Tentang Manusia SEHAT :*

Menyatakan bahwa sel-sel kanker paling takut dengan CINTA.

Penelitian menemukan banyak orang sakit karena tidak punya cinta kasih!

Profesor Amerika  Hawkins yg adalah seorang dokter terkenal, dia telah mengobati banyak orang sakit dari berbagai belahan dunia. Begitu melihat seseorang, dia sudah tahu mengapa orang itu sakit. Karena dari tubuhnya TIDAK DITEMUKAN sedikitpun kasih dalam dirinya, yg ada hanya  penderitaan, keluhan dan deraian air mata yang membungkus seluruh tubuhnya. 

Profesor Hawkins mengatakan: 
Kebanyakan orang sakit karena tidak ada hati yg mangasihi dalam dirinya. Yang ada hanya kesedihan dan deraian air mata. Getaran magnet kasih di bawah 200 menyebabkan mudah terserang sakit.

David Hawkins mendapati bahwa sebagian orang sakit SELALU menggunakan pikiran negatif. Jika frekuensi cinta kasih seseorang *di atas 200* maka dia tidak akan sakit. 

Pikiran atau niat negatif mana yang ada di bawah getaran 200? Yaitu:
• suka mengeluh
• suka mnyalahkn orang lain
• dendam pada orang
Kalau pikiran2 itu yang menguasai pikiran se"org berarti magnet cinta kasihnya hanya ada di sekitar 30-40 saja.  
Proses tidak putus-putusnya menyalahkan orang lain telah menguras sebagian besar tenaga sehingga frekuensi cinta kasihnya berada di bawah 200. 
Orang- orang seperti itu SANGAT MUDAH mengidap berbagai jenis penyakit.

Frekuensi paling tinggi berada di angka 1000 dan yang paling rendah berada di angka 1. 

Beliau mengatakan di dunia ini dia telah melihat yang mempunyai frekuensi positif di atas 700 maka kekebalannya/ kemampuannya sangat cukup. 
Jika orang-orang seperti itu tampil di suatu tempat maka ia bisa mempengaruhi frekuensi positif di daerah itu. Seorang yang berkebajikan tinggi yg mendapatkan penghargaan novel perdamaian seperti Bunda Teresa jika muncul di suatu tempat maka frekuensi di tempat itu pun menjadi positif dan sangat tinggi. Semua orang yang hadir di tempat tersebut akan merasakan getaran kasihnya yang sangat tinggi, semua orang merasa nyaman dan sangat tergugah di dalamnya.

Pada saat orang yang memiliki getaran HAWA positif tampil di suatu tempat maka dia akan menggerakkan semua orang dan makhluk yang ada di tempat itu menjadi nyaman dan merasa damai. 

Namun pada saat orang  memiliki pikiran negatif muncul di suatu tempat bukan saja akan mencelakai dirinya sendiri tetapi juga bisa menyebabkan ATMOSFIR/ HAWA POSITIF ditempat tersebut memburuk.

Profesor Hawkin telah melakukan puluh kali riset contoh kasus dan penelitian pada orang-orang yang berbeda namun jawabannya serupa yaitu: asal getaran frekuensinya berada *di bawah  200* maka orang itu *pasti sakit*. Tapi jika berada *di atas 200* maka orang itu *tidak sakit.*  

*Yang di atas 200:* apa saja yg didasari dengan hati Welas Asih, cinta kasih, suka beramal, gampang memaafkan, lemah lembut, dan lain-lain. Ini semua berada di frekuensi sekitar 400-500.

Sebaliknya suka membenci, emosional, menyalahkan orang lain, marah, iri hati, menuntut orang lain, egois dalam semua hal, hanya memikirkan kepentingan pribadi, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, orang-orang seperti itu mempunyai frekuensi magnet yang *paling rendah*. 
Hal itu yg menyebabkan menjadi penyakit kanker, sakit jantung dan penyebab penyakit lainnya.

Dia memberitahukan kepada kita dari sudut pandang medis bahwa pikiran itu sangat luar biasa pengaruhnya terhadap kesehatan dan penyakit seseorang.

Kekuatan Cinta :
Seorang seniman biola setelah mengidap penyakit kanker dia berjuang melawan penyakitnya namun dia merasakan semakin hari semakin memburuk lalu dia memperbaiki konsep pikirannya dengan mencintai semua sel kanker yang ada dalam dirinya sendiri, dia melihat sel kanker yang menyakitkan itu sebagai sebuah pelayanan pada dirinya dan ia berterima kasih padanya dan dia merasakan perasaannya lebih nyaman. 
Selanjutnya dia memutuskan menjalani dengan Cinta untuk menghadapi dan semua masalah yang dihadapinya dia memutuskan untuk melayani setiap orang dan dirinya sendiri dengan cinta.

Setelah beberapa waktu berlalu di luar dugaan, semua sel-sel kanker dalam dirinya menjadi hilang. Terakhir dia menjadi seorang ahli therapy  di Jepang. Dia mendapati dasar dari semua kehidupan adalah *CINTA*... 

Pada saat seseorang telah bisa hidup dengan cinta, maka dia bisa mendapatkan kedamaian dan kesehatan secara fisik dan batin.

*"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."*

Salah satu manfaat yang bisa didapat dari panduan dan latihan twin heart meditation adalah secara sadar menumbuhkan cinta dalam diri, dan memberikan cinta kepada diri dan hal hal di luar diri

Artikel ini telah banyak merubah _mindset_ pikiran orang-orang yang selama ini hanya mengharap, bukan memberi.
Semoga kita makin bahagia jiwa &raga..πŸ’πŸ’ƒπŸŒ·πŸ˜πŸ˜‡πŸ’ͺπŸ™

Sumber: tidak diketahui

Kamis, 29 Desember 2016

Makna Pelinggih Taksu

Kata “Taksu” adalah kata bahasa Bali (bukan Sanskerta atau Jawa Kuno atau Kawi) yang berarti kekuatan bathin atau kekuatan spiritual. Kekuatan di dalam diri yang memancarkan pesona, daya pukau, wibawa dan sekaligus karisma (Suhardana, 2011:157).

Palinggih Taksu adalah palinggih dari Dewi Saraswati, sakti (kekuatan) Dewa Brahma dengan bhiseka Hyang Taksu yang memiliki fungsi memberikan kekuatan spiritual atau daya magic yang menyebabkan keberhasilan semua pekerjaan dan memelihara semangat dan gairah hidup yang penuh dengan godaan (Winanti, 2009:31). Adapun bentuk Palinggih Taksu dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu :

1. Taksu Tenggeng

Taksu ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah disebut Bataran, diatas bataran menggunakan sebuah tiang yang menyangga semua ruangan atau rong lengkap dengan atapnya. Dengan demikian, Taksu Tenggeng adalah palinggih yang bagian bawahnya merupakan bataran, di tengahnya sebuah tiang dan bagian atasnya sebuah ruangan yang beratap.

2. Taksu Nyangkil

Bentuknya hampir sama dengan Taksu Tenggeng. Hanya saja ruangannya terdiri dari dua ruangan (rong). Bagian bawah disebut bataran, bagian tengah disebut tiang (saka) bagian atas dua buah rong yang menyangga atap.

3. Taksu Agung

Bentuk bangunan Taksu Agung terdiri dari bataran di bagian bawah, di bagian tengah adalah badan bangunan, di atasnya merupakan sebuah ruangan disangga oleh sepasang Saka Anda ditutupi oleh atap bangunan. Penggunaan masing-masing palinggih Taksu ini tergantung dari latar belakang sejarah dari keluarga yang memiliki merajan tersebut. Meskipun berbeda-beda bentuknya, fungsi Taksu ini adalah sama.

Busana untuk Palinggih Taksu adalah Putih Poleng.

Untuk upakara atau banten yang dipersembahkan untuk Pelinggih Taksu adalah Ajuman (1) dan Canang Sari (1). Dalam konsep penyatuan sivasiddhanta adalah ada kemiripan fungsi pelinggih Taksu dengan Ista Dewata dari sekta Sakta di India, sekte yang memuja aspek feminim Tuhan (Sakti/kekuatan) (Gunawan, 2012:21).

sumber: siwagama, liaabenk, padmabuana

>>>sumber<<<

Senin, 12 Desember 2016

Inilah Rahasia Di Balik Bulan Purnama

Seluruh Alam Semesta beserta seluruh kehidupan keberadaannya mungkin saling terkait. Sering disebut ada tiga tingkatan alam menyeluruh, tapi satu dengan lainnya saling berkaitan. Menjadi satu kesatuan, berawal dari bagian-bagian semesta.Dari mana datangnya planet-planet itu? Mengapa matahari bersinar. Siapa memberi sinar? Mengapa ada bulan, dari mana asal-muasalnya. Mengapa suatu waktu ia bersinar terang (Purnama). Suatu saat gelap (Tilem).



Bulan purnama membawa kesan keindahan tersendiri, dan keunikan khas, ditangkap setiap orang. Karena itulah, Bulan Purnama menjadi sangat diperhatikan tibanya. Karena bulan purnama dianggap merupakan kesatuan cahaya, diantara ke tiga (Bhur,Buah, Shuah) alam tersebut.
Pertama ada imajinasi dibayangkan, seperti semesta tak terbatas, tapi ‘’dibatasi’’ sebagai wujud Tuhan. Pada hal batas wujud Tuhan tak dapat dilihat nyata. Juga alam jagat planet di dalam diri alam semesta, tetap misteri (makro kosmos). Ada pula mikro kosmos, alam kecil manusia.
Satu pendapat menganggap, Bulan Purnama muncul sebagai pemberi tanda, bahwa hari itu ada sesuatu istimewa terjadi. Paling tidak; berbeda dari hari-hari biasanya. Dimana Bulan muncul dengan penampakan, keindahan bulan purnama saat itu. Bulan Purnama muncul konon akibat dari kondisi bulan berada pada poros penyinaran penuh oleh matahari. Suatu keadaan tata Surya saat seperti itu, dimana matahari menyinari penuh planet bulan terjadi hanya saat tertentu saja. Pusat penerangan cahaya telah menjadi satu kesatuan penuh menjadi satu garis dari ke tiga alam planet besar itu. Matahari menjadi pusat sumbu, di mana bulan dan planet bumi saatnya satu poros tatkala bergerak penuh.
Dalam alam kosmos peredaran planet terdiri dari berjuta-juta planet di alam semesta raya ini merupakan suatu keadaan misteri. Seolah-olah ada tangan maha besar, kekuatan maha dahsyat dan pikiran maha cerdas mengatur seluruh alam semesta, agar tak terjadi tabrakan hebat.
Bukan kemustahilan hal itu bisa terjadi kalau tidak ada kecerdasan super yang mengaturnya. Akibatnya akan timbul kekacauan gerakan alam semesta, kemungkinan bisa menimbulkan hari kiamat. Setiap ancaman tabrakan, menimbulkan ancaman bagi kelangsungan hidup manusia di dunia, makhluk dan benda-benda di alam semesta.
Di Bali ada kepercayaan telah memasyarakat bahwa saat Bulan Purnama para Dewa melakukan meditasi, menyucikan bumi, merakhmati manusia dan saat seperti itu, Bulan Purnama memancarkan cahaya keberkahan. Tuhan mengeluarkan enersi demi memelihara kesejahteraan alam semesta, melalui cahaya, membagi pancaran-Nya, berupa para Dewa ke seluruh semesta. Sumber cahaya, enersi kehidupan, Dewa dan seluruh kehidupan dan makhluk maupun benda, berawal karena Tuhan ada. Seluruhnya berpusat dan ada hanya karena Tuhan. Ketika Tuhan tidak ada, apa pun tidak akan pernah ada. Dewa adalah kekuatan terpencar dari salah satu sinar kekuatan Tuhan. Pada hal Tuhan memiliki, berbagai kekuatan khas yang dahsyat. Cahaya kekuatan itu, diberi atribut Dewa.
Nampaknya paling tidak, ada dua efek yang diisyaratkan oleh suasana Bulan Purnama itu (kumpulan cahaya penuh). Pertama, kondisi alam sangat mendorong manusia, mencapai kesucian, hari itu diberkati Tuhan, menuju kedamaian dan kesejahteraan,bagi setiap makhluk. Bulan Purnama sering diidentikkan dengan keindahan (kemuliaan). Kesucian mencapai ‘’sunia’’, inti dari sepi dan sunyi tanpa noda. Kepasrahan kepada sesuatu yang mulia tadi, tanpa mengharapkan apa-apa. Orang Bali mengatakan: ‘’Identik dengan bahagia tak kembali lagi kepada duka’’. Menghuni rumah Tuhan dengan abadi.Tak terlahirkan kembali.
Di Bali orang melakukan upacara persembahyangan, memilih di Bulan Purnama. Atau hari-hari persembahyangan jatuh pada hari Bulan Purnama. Tak mengherankan di Bali, bila Bulan Purnama, akan menemukan upacara-upacara berbagai jenis. Tentu dipilihnya hari itu, karena dianggap hari penuh berkah dan suci. Hari dimana diyakini para Dewa melakukan ‘semadi’ dan menebarkan berkahnya kepada setiap makhluk maupun benda-benda di alam semesta. Sebaliknya pada waktu Tilem (bulan gelap), kebalikan dari posisi bulan terletak pada Bulan Purnama, dilakukan pula peringatan sebagai keyakinan adanya Rwabinedha.Keduanya berbeda tetapi harus sama-sama dihormati.
Akibat kedua, perilaku misteri Bulan Purnama itu bisa berakibat jatuh pada suasana indah, tapi terperangkap pada kepentingan pemuasan indra-indra, dikatakan bentuknya lebih rendah. Bisa jatuh ‘rindu’ dan bersifat ‘nafsu’ bila mengenangkan sesuatu yang dicintai. Dimana bangkitnya rasa romantis, terutama di balik itu biasanya bermenung Dewa Asmara (Semara dan Ratih) dan ini sah saja. Kalau tidak demikian, bagaimana manusia bisa berkembang di atas dunia ini. Ini tergantung pada kedudukan, tujuan dan suasana tingkat bathin manusia dan makhluk itu sendiri. Dimana mereka sedang terpengaruh oleh sinar Bulan Purnama. Namun pada dasarnya keindahan itu adalah suci seperti cahaya cemerlang menyapu kegelapan. Itulah Bulan Purnama sebagai perwujudan keindahan, bisa membebaskan dan bisa pula terikat pada tujuan di luar itu.
Ada beberapa cerita mungkin mitos, bisa sejarah, bisa fiksi atau apalah istilahnya itu. Misalnya, ketika Sang Budha Gautama masih sebagai Pangeran Sidharta Gautama kemudian mencapai kebudhaan (kesempurnaan), dimana waktu pencapaian ini dikatakan pula bertepatan, pada saat Purnama Sidhi. Bulan Purnama penuh berkah dan kesucian. Hal ini, merupakan kisah seorang tokoh maha besar junjungan penganut ajaran budha.
Ada seorang penekun spiritual, bercerita kepada penulis. Bahwa saat bulan Purnama di bulan Juni dan Juli, lihat ke langit saat tengah malam atau sesudah tengah malam setiap hari. Carilah tempat, dimana langit dapat ditatap dengan bebas dan ditaburi bintang-bintang. Suasana damai dan misteri, sulit dilukiskan memakai kata-kata, mungkin akan Anda temukan bila hati Anda terbuka lebar. Anda akan menyaksikan dengan terkejut, bila selama ini Anda anggap Bulan Purnama biasa saja. Bintang dengan lincah berselewiran seperti berpindah tempat dan kemudian menghilang. Atau cahaya besar sebesar kurungan ayam, berjalan dengan penuh cahaya dan mengeluarkan sinarnya menerangi alam sekelilingnya. Bahkan ia mengatakan pernah melihat cahaya besar itu sangat dekat dengan bumi. Sehingga tempat di bawahnya diterangi oleh bagian cahayanya. “Hal seperti ini sekarang memang sulit lagi saya temui, pada hal sangat merindukanya, “ katanya menutup penuturannya.
Pada saat melihat bintang terbang, saat seperti itu, orang yang sempat mengingat dan memanggil nama Tuhan dan mengucapkan doa, sebelum cahaya itu menghilang. Doanya akan terkabul, beberapa orang mengatakan setuju dengan kebenaran hal itu.
Konon itu terjadi para dewa sedang mengadakan perjalanan suci di dalam meditasinya menuju dunia. Mereka menebarkan berkah. Tapi dari sudut ilmu pengetahuan, hal itu bisa merupakan perpindahan bintang atau meteor pecah, dimana pecahannya terlempar mendekati bumi. Kejadian seperti itu dianggap tidak ada keistimewaannya, kecuali memang terasa ada suasana damai, alam terbuka dan suasana sepi sendiri dengan angin malam berembus kecil. Bagi penulis, sempat pernah merasakan kedamaian dan keluarbiasaan suasana misteri. Merupakan pengalaman tersendiri.
Ada pula mitos tentang terjadinya bulan gerhana, bulan mau dimakan Kala Rawu, kepergok matahari saat menelan Bulan Purnama. Tentu Kala Rawu jatuh hati akibat keindahan bulan purnama. Sebaliknya pula suasana bulan purnama bisa dimanfaatkan untuk menjalin cinta di bawahnya diiringi janji-janji bernada ‘’gombal’’ dengan saksi Bulan Purnama. Bahkan menurut sebuah penelitian penulis sempat baca, di kala bulam purnama ternak-ternak yang hidup bebas di padang rumput luas (pasture), memanfaatkan bulan purnama untuk menuju perkembangbiakan lebih cepat. Bulan purnama ternyata berpengaruh terhadap libido ternak-ternak yang hidupnya bebas di padang rumput.
Satu hal mungkin perlu dipahami dan direnungkan tentang adanya keyakinan, bahwa bulan itu merupakan pintu Nirwana. Meskipun bulan nampak dari jauh sangat indah dan mulus, konon sebenarnya adalah terdiri dari bukit-bukit karang. Di balik itu, ada berita menyatakan ada tersimpan kandungan bahan-bahan kehidupan sangat berharga. Bahkan bulan pernah didarati manusia. Pada hal sebelumnya dikatakan tak mungkin. Kenyataannya memang terjadi, manusia mencapai pintu Nirwana dengan kekuatan imajinasi dan akal budi (Ilmu Pengetahuan). Namun manusia dengan pikirannya yang dahsyat itu belum mampu membuka rahasia besar dan meyakinkan di balik fisik bulan. Apa sebenarnya bulan itu? Dari mana asalnya? Mengapa harus ada bulan? Tatkala bulan purnama, benarkah bulan sebagai pintu Nirwana, terbuka dan memancarkan energi hidup demi kelangsungan semua yang ada di alam semesta? Jawabannya masih tersimpan rapi sebagai rahasia besar untuk dibuka manusia.