This is default featured slide 1 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 2 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 3 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 4 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 5 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 6 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 7 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 8 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 9 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 10 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 11 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 12 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 13 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 14 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 15 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 16 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 17 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 18 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 19 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

This is default featured slide 20 title

http://kadeksuarnaya.blogspot.com/

Kamis, 21 Juli 2016

Memahami lebih dalam tentang Ho’oponopono


HO’OPONOPONO

Apa itu Ho’oponopono ?
Ho’oponopono pada awalnya banyak dikenal sebagai sebuah seni dalam pemecahan masalah keluarga di Hawaii. Dalam perkembangan selanjutnya, Morrnah Nalamaku Simeona, seorang Khuna La’au Lapa’au atau penyembuh, memperkenalkan cara penemuan identitas diri melalui Ho’oponopono.
Penemuan Identitas Diri melalui Ho’oponopono dilakukan dengan cara mengambil alih sepenuhnya atas apa pun yang terjadi di dalam kehidupan kita. Ya, mengambil alih tanggung jawab sepenuhnya.

Kenapa Penting bagi Kita untuk Mengambil Alih Tanggung Jawab 100% Sepenuhnya?
Bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan kita, berarti kita terus menerus melakukan pembersihan memori-memori (ingatan) kita, yaitu data-data buruk yang ada di memori kita. Pembersihan memori yang kita lakukan ini akan membawa kita pada “TITIK NOL” kita.

Apa itu “TITIK NOL” ?
“TITIK NOL”, menurut Morrnah, adalah sebuah kondisi saat kita menjadi “bersih” dan di mana segala sesuatunya berjalan dengan sempurna. Ini adalah saat kita merasa sangat dekat dengan Tuhan. Dalam berbagai kisah spiritual, kondisi ini diibaratkan sebagai Surga, Taman Firdaus, Taman Eden, tempat Adam dan Hawa pada awal mulanya diciptakan dan hidup.
“TITIK NOL” adalah kondisi saat kita menjadi sempurna dan dapat mendengar suara Tuhan, mendapatkan suatu pencerahan. Sangat sulit bagi sebagian besar orang untuk mencapai kondisi “TITIK NOL” ini. Ya, sangat sedikit orang yang dapat mencapai “TITIK NOL” ini.
 

Mengapa Sangat Sulit bagi Kebanyakan Orang untuk Mencapai “TITIK NOL” ?
Sejak awal mula penciptaan hingga sekarang, memori terus terakumulasikan di dunia ini. Dengan demikian, sudah tidak terhitung lagi banyaknya memori di dunia ini. Semakin banyak memori yang terakumulasikan membuat kita semakin sulit untuk mencapai “TITIK NOL”. Ya, karena memori-memori ini selalu mengambang dan bergerak-gerak di sekitar kita sehingga membuat pikiran kita terus menerus bereaksi terhadapnya. Inilah yang biasanya memyebabkan kebanyakan orang sangat sulit untuk mencapai “TITIK NOL”.
 

Apakah Ho’oponopono dapat Membantu Membersihkan Memori Negatif?
Ya. Untuk membersihkan sebuah rumah yang kotor dan dipenuni oleh debu kita memerlukan sebuah “alat pembersih”. Seperti halnya sebuah rumah, untuk membersihkan diri kita dari memori-memori negative yang merugikan, maka kita juga memerlukan sebuah “alat pembersih”. Dan kabar baiknya bagi kita, Ho’oponopono dapat membantu kita membersihkan pikiran-pikiran negative itu.
Ketika orang menggunakan “alat pembersih” ini, Ho’oponopono, dan mempraktekannya, maka akan semakin banyak memori yang dapat dibersihkan di dunia ini. Setiap kali orang mempraktekan Ho’oponopono, maka setiap memori buruk yang ada akan dibersihkan dan dilepaskan untuk dibersihkan oleh Tuhan, dan dihapuskan dari diri kita. Dan ketika sebuah ingatan negative dihapuskan oleh Tuhan dari diri Anda, ini berarti memori itu telah dihapuskan dari dunia ini.
 

Bagaimana Ho’oponopono dapat Membersihkan Memori Negatif?
Dengan mempraktekkan Ho’oponopono, maka diri serta pikiran kita akan terus menerus diingatkan sehingga pikiran kita secara otomatis selalu menyensor dan membersihkan pikiran-pikiran negative yang muncul. Ya, pikiran-pikiran negative seperti kekhawatiran, menghakimi, dan melarutkan diri dalam masalah yang dihadapi, dan lain sebagainya. Sebenarnya dengan membiarkan diri kita hidup dalam pikiran-pikiran negative itu, dan mengakumulasinya dari hari ke hari, ini akan menyebabkan diri kita semakin jauh dari Tuhan, ini artinya seakan-akan kita mengatakan pada Tuhan bahwa kita tidak membutuhkan bantuan-Nya.
Mempraktekkan Ho’oponopono akan membantu kita untuk belajar melepaskan “ikatan” kita pada setiap pikiran negative dan permasalahan yang kita hadapi. Karena seperti yang kita ketahui, ketika kita larut dalam pikiran negative kita, misalnya kekhawatiran, maka sebenarnya kita semakin menambahkan kekhawatiran itu dalam memori kita alih-alih menghilangkan dan melenyapkannya.
Dengan mempraktekan Ho’oponopono, maka Ho’oponopono akan selalu membantu kita untuk selalu percaya dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Ya, karena kita percaya bahwa kehendak Tuhanlah yang terbaik.
Ya, setiap kali mempraktekkan Ho’oponopono, maka turut membantu menghapus memori yang terakumulai di dunia ini.
 

Bagaimana Cara Mempraktekkan Ho’oponopono untuk Membersihkan Memori Negatif?
Sangatlah mudah untuk mempraktekkan Ho’oponopono dan membantu membersihkan berbagai memori yang ada di dunia ini. Kita dapat mengafirmasikan dan mengulang-ulang kalimat-kalimat sebagai berikut :
–      “Saya Menyesal” atau “I am Sorry”,
–      “Maafkan Saya” atau “Forgive Me”,
–      “Terima kasih” atau “Thank You”,
–      “Saya Mencintaimu” atau “I Love You”
Ya, sesederhana itu untuk melakukan perubahan dalam hidup kita. Setiap kali kita mengulang-ulang baik salah satu saja maupun seluruh kalimat itu, ini artinya kita sedang melepaskan ingatan-ingatan negative dari pikiran kita. Dan tindakan selanjutnya adalah memasrahkan diri dan percaya sepenuhnya dengan ikhlas kepada Tuhan, biarkan Tuhan dengan kuasa-Nya yang ajaib dan mengagumkan menghapus berbagai memori-memori negative dari pikiran kita.
 

Apa Keuntungan Kita Mempraktekkan Ho’oponopono?
Mempraktekkan Ho’oponopono memberikan kita sebuah kesempatan untuk selalu bertanggun jawab atas segala sesuatu di dalam kehidupan kita. Setiap masalah yang datang dan kita hadapi dalam hidup kita akan mulai kita pandang sebagai tanggung jawab kita sepenuhnya, alih-alih melemparkan tanggung jawab kepada orang lain seperti biasa yang dilakukan oleh kebanyakan orang.
Dengan mempraktekkan Ho’oponopono, setiap masalah yang datang akan kita hadapi dengan tanggung jawab penuh. Dan masalah yang datang itu akan menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk melakukan pembersihan memori dan menghapus memori dari masalah tersebut.
Mempraktekkan Ho’oponopono juga memberikan kita sebuah kesempatan untuk selalu merasa bahagia dan damai. Memori negatif (buruk) dapat berupa orang-orang, situasi maupun kejadian yang mengganggu diri maupun pikiran kita. Sangat penting bagi kita untuk tidak larut dan terjebak terus menerus dalam momori negatif.
Penyakit kanker adalah contoh sebuah penyakit yang disebabkan oleh memori negatif, sehingga kita perlu untuk melakukan pembersihan. Kemiskinan juga merupakan memori negatif, kemarahan adalah juga memori negatif. Ya, segala sesuatu selain kedamaian adalah sebuah memori negatif (buruk).
Ini mungkin sulit untuk dipahami, sebagaimana pikiran sadar kita “hanya” mampu memahami sebagian kecil saja dari rahasia yang ada di alam semesta ini.
 

Akhirnya, Ho’oponopono untuk Kembali ke “TITIK NOL”..
Dalam hidup sehari-hari kita sering melakukan berbagai penilaian yang salah dan terjebak dalam memori negatif. Maka semakin kita terjebak, semakin kita menjauh dari Tuhan, dan semakin kita tidak dapat mendengarkan petunjuk Tuhan. Ho’oponopono memberikan kita kesempatan untuk semakin mendekat kepada Tuhan dan berjalan sesuai dengan jalan-Nya.
Dengan mengambil alih tanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan kita, dan mempraktekan Meditasi Ho’oponopono sebagai sarana untuk membersihkan memori-memori negatif, itu artinya kita melepaskan dan membersihkan memori itu. Dan semakin diri kita bersih, maka kita semakin membuka diri kita kepada Tuhan dan kembali ke “TITIK NOL”.


Copas dari: https://huna4indonesia.wordpress.com/hooponopono/
=======================================================================

 
Kebenaran Menakjubkan Tentang Ho’oponopono

Saya tidak menyangka akan ada begitu banyak orang tertarik pada Ho’oponopono ini. Banyak rekan-rekan saya yang berbagi cerita atau mengajukan pertanyaan tentang teknik ini. Mereka ingin mengetahui lebih banyak dan hal itulah yang mendorong saya untuk berbagi dengan semua orang. Jadikan tulisan saya dalam blog ini sebagai sarana yang dapat membantu Anda mempelajari metode Ho’oponopono I-Dentitas Diri lebih dalam.

This Gift for you.....

Ketika pertama kali saya mendengar teknik rahasia Hawaii ini, untuk mengejanya saja saya membutuhkan beberapa kali mengucapkannya dengan benar.

”Apa itu Ho’oponopono ?”

”Apa luar biasanya teknik ini ?”

”Bagaimana saya bisa menggunakan teknik ini untuk memperoleh kekayaan, kesehatan, dan kedamaian ?” seperti yang dituliskan di halaman depan buku itu, membuat saya benar-benar penasaran.

Mari kita mulai membuka kebenaran rahasia ini.

Seorang Pencipta dan guru besar Ho’oponopono I-Dentitas Diri bernama Morrnah Nalamaku Simeona. Ia seorang ”pekerja keajaiban” yang memberi ceramah di perguruan tinggi, rumah sakit, dan bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia telah wafat bulan februari 1992. Dan sampai menjelang ajalnya, ada seseorang yang selalu bersamanya dan menerima pelatihan dari Morrnah selama satu dasawarsa, dialah Dr. Ihaleakala Hew Len, salah satu pengarang buku Zero Limits. Sejak saat itu hingga sekarang, Dr. Hew Len lah yang meneruskan penyebaran Ho’oponopono I-Dentitas Diri ini ke berbagai belahan dunia. Anda dapat melihat situs resminya di www.hooponopono.org.
Morrnah Nalamaku Simeona

Dr. Hew Len menjelaskan, ”Secara sederhana arti Ho’oponopono adalah ’membetulkan’ atau ’meralat sebuah kekeliruan’. Menurut orang Hawaii kuno, kekeliruan timbul dari pikiran-pikiran yang dicemari kenangan yang menyakitkan dari masa lalu. Ho’oponopono menawarkan sebuah cara untuk melepaskan energi pikiran yang menyakitkan atau kekeliruan ini, yang mengakibatkan ketidakseimbangan dan penyakit.”
Dalam bahasa Hawaii, ho’o berarti ”menyebabkan” dan ponopono berarti ”kesempurnaan”. Singkatnya definisi Ho’oponopono adalah sebuah proses pelepasan energi yang bersifat racun dalam diri Anda untuk mengizinkan munculnya dampak gagasan, kata, perbuatan, dan tindakan Sang Ilahi.
Sang Ilahi disini dapat digambarkan sebagai Allah, Kehidupan, Alam Semesta, atau istilah lain apa pun untuk kekuatan kolektif yang lebih tinggi.
Satu hal yang membuka pikiran, adalah: ”I-Dentitas Diri melalui Ho’oponopono melihat setiap masalah bukan sebagai cobaan berat, melainkan kesempatan. Masalah hanyalah kenangan masa lalu yang bermunculan kembali untuk memberi kita satu kesempatan lagi guna melihat dengan mata KASIH dan bertindak berdasarkan inspirasi.”
Pendeknya, Ho’oponopono semata merupakan sebuah proses pemecahan masalah. Namun hal itu seluruhnya dilakukan dalam diri Anda.

Sekarang inilah yang menarik perhatian saya.

Dr. Hew Len pernah bekerja di Rumah Sakit Negara Bagian Hawaii selama tiga tahun. Bangsal tempat mereka merawat penjahat yang gila sangat berbahaya. Setiap bulan selalu ada psikolog yang mengundurkan diri. Banyak karyawan tidak masuk kerja dengan alasan sakit, atau semata mengundurkan diri. Orang-orang berjalan di bangsal dengan punggung menempel dinding, khawatir diserang pasien. Bukan tempat yang menyenangkan untuk ditinggali, dikunjungi, atau dijadikan tempat kerja.
Ia tak pernah melihat pasien dalam pekerjaannya. Ia bersedia memeriksa catatan-catatan mereka. Sementara melihat catatan-catatan tersebut, ia akan membenahi dirinya. Ketika ia membenahi dirinya, para pasien mulai menjadi sembuh.
Anda pasti takjub membaca yang berikut:
Setelah beberapa bulan, pasien yang dirantai diperbolehkan berjalan-jalan dengan bebas. Pasien lain yang diobati dengan banyak obat dikurangi obatnya. Mereka yang sebelumnya dianggap tidak memiliki kesempatan dilepaskan telah dibebaskan.”
Tidak hanya itu...lanjut Dr. Len
Para karyawan mulai senang datang ke tempat kerja. Ketidakhadiran dan arus keluar masuk karyawan tidak tampak. Akhirnya kami memiliki lebih banyak karyawan daripada yang kami butuhkan karena para pasien dilepaskan dan seluruh karyawan datang bekerja. Sekarang ruangan itu ditutup.”

Saya sempat berpikir , “Apa iya cerita ini betul-betul terjadi ? Sepertinya tidak mungkin.”
Mungkin Anda juga sempat terlintas pikiran demikian. Namun, memang itulah kenyataannya. Dr. Hew Len hanya membersihkan bagiannya yang dibagi dengan para pasien itu.
Ia pun menjelaskan: “Untuk menjadi seorang pemecah masalah yang efektif, si terapis harus mau bertanggung jawab 100 persen karena telah menciptakan situasi masalah, yaitu ia harus mau melihat bahwa sumber masalahnya adalah pikiran-pikiran yang salah dalam dirinya,bukan dalam diri kliennya. Dengan menggunakan pendekatan Ho’oponopono, sebuah proses pertobatan dan pengampunan memungkinkan si terapis bekerja langsung dengan Sumber Asal yang dapat mengubah pikiran-pikiran salah menjadi KASIH.”
Taukah Anda apa yang dilakukannya?
Ketika memeriksa catatan pasien, saya merasakan kepedihan dalam diri saya. Ini merupakan kenangan yang dibagi. Programlah yang mengakibatkan pasien bertingkah laku seperti itu. Mereka tidak punya kendali. Mereka terperangkap dalam sebuah program. Ketika merasakan program ini, saya membersihkannya,” ia menuturkan.
Dia akan menanyai dirinya,” Apa yang terjadi dalam diri saya yang menyebabkan masalah ini, dan bagaimana saya dapat memperbaiki masalah dalam diri saya ?”
Ia melihat catatan pasien dan sambil melakukannya, di dalam batin ia berkata kepada Sang Ilahi, ”Saya Mengasihimu”, ”Saya Menyesal”, ”Maafkan Saya” dan ”Terima Kasih”. Ia melakukan apa yang diketahuinya untuk menolong mengembalikan pasien ke keadaan perbatasan nol. Ketika Dr. Hew Len melakukan hal itu dalam dirinya, para pasien sembuh.

Saya tahu ini membingungkan, bagaimana mungkin hanya dengan mengatakan empat frase tersebut bisa menyembuhkan para pasien ?” Itulah yang ada dalam benak saya pertama kali membacanya.
Lalu saya menemukan ini: ”Ada dua cara untuk menjalani kehidupan,” Dr. Hew Len menjelaskan. ”Melalui kenangan atau melalui inspirasi. Kenangan adalah program-program lama yang dijalankan lagi. Inspirasi adalah pesan yang diberikan Sang Ilahi kepada Anda. Cara satu-satunya untuk mendengar suara Sang Ilahi dan menerima inspirasi adalah dengan membersihkan semua kenangan. Satu-satunya hal yang perlu Anda lakukan adalah membersihkan.”
Rupanya metode penyembuhan dari dalam ke luar ini adalah apa yang disebut Ho’oponopono I-Dentitas Diri.
Hanya ada empat pernyataan yang perlu Anda katakan berulang-ulang tanpa henti, yang ditujukan kepada Sang Ilahi.
”Saya mengasihimu.”
”Saya menyesal.”
”Mohon Maafkanlah saya.”
”Terima kasih.”
Dr. Hew Len menjelaskan “Bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan Anda berarti segala sesuatu dalam kehidupan Anda—semata karena hal itu berada dalam kehidupan Anda—merupakan tanggung jawab Anda. Dalam pengertian harfiah, seluruh dunia adalah ciptaan Anda.
Anda bertanggung jawab sepenuhnya berarti menerima semuanya—bahkan orang yang memasuki kehidupan Anda dan masalah mereka karena masalah mereka adalah masalah Anda. Mereka ada di dalam kehidupan Anda, dan kalau Anda mengambil tanggung jawab penuh atas kehidupan Anda, Anda juga harus mengambil tanggung jawab penuh atas apa yang mereka alami. Data itu ada dalam diri Anda. Anda harus menghapusnya untuk kembali ke batas nol, dimana tempat datangnya inspirasi Sang Ilahi sehingga mereka pun kembali ke keadaan nol dan mereka pun menerima inspirasi,” kata Dr. Hew Len.

Itu berarti teroris, presiden, ekonomi apa pun yang Anda alami atau tidak Anda sukai—sudah saatnya Anda sembuhkan. Sesungguhnya mereka tidak ada, selain sebagai proksidari dalam diri Anda,” Jelas Dr Joe.
“Masalahnya tidak ada dalam diri mereka, tapi dalam Anda.”
“Dan untuk mengubahnya, Anda harus mengubah diri Anda.”
Menarik bukan ? Ini adalah konsep baru yang saya temukan dan ini membuat otak saya kewalahan menerima konsep ini, Dulu.
Banyak dari kita pada awalnya akan merasa sulit memahami dan menerima atau skeptis terhadap hal itu, lebih mudah menyalahkan orang lain untuk segala sesuatunya daripada bertanggung jawab sepenuhnya.
Namun, begitu Anda menerimanya, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mengubah diri Anda supaya seluruh dunia juga berubah.

Satu-satunya cara yang pasti adalah dengan “SayaMengasihimu.”
Itulah kode yang membuka kunci penyembuhan. Namun, Anda menggunakannya pada diri Anda, bukan pada orang lain. Ingatlah masalah mereka adalah masalah Anda maka membenahi mereka tidak akan membantu Anda. Mereka tidak memerlukan penyembuhan, Anda-lah yang memerlukannya. Anda harus menyembuhkan diri Anda. Anda-lah sumber semua pengalaman itu.
Nah, ini baru awal perjalanan. Sekarang Anda sadar bahwa Anda menciptakan realitas Anda sendiri.
Tidak masalah jika Anda masih bingung atau berpikir bahwa menurut Anda ini tidak masuk akal. Jangan biarkan Anda hanya mengetahuinya sampai disini.

Sekarang, mari kita mulai perjalanan selanjutnya.
“Saya Mengasihi Anda.”


Copas dari: http://thehooponopono.blogspot.co.id/2009/06/kebenaran-menakjubkan-tentang_17.html
========================================================================

Sabtu, 09 Juli 2016

Makna Hari raya Tumpek Landep

Hari raya Tumpek Landep sendiri merupakan rentetan setelah hari raya saraswati, dimana pada hari ini umat hindu melakukan puji syukur atas berkah yang telah diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati. Perbedaan hari raya Saraswati dengan hari raya Tumpek Landep adalah dimana pada saat hari raya Saraswati umat hindu melakukan puji syukur atas turunnya ilmu pengetahuan dimana diimplementasikan dengan mengupacari berbagai sumber-sumber ilmu pengetahuan, seperti buku, lontar, prasasti dan berbagai sumber-sumber sastra dan ilmu pengetahuan lainnya. Sedangkan pada hari raya Tumpek Landep lebih mengucapkan puji syukur kepada Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati yang telah menganugrahi kecerdasan dan ketajaman pikiran kepada manusia yang mana dari pikiran-pikiran tersebut melahirkan daya cipta rasa dan karsa manusia dalam menciptakan sesuatu (output) yang dapat mempermudah kehidupannya untuk mencapai kebahagiaan.


Hari raya tumpek landep jatuh setiap Saniscara/hari sabtu Kliwon wuku Landep, sehingga secara perhitungan kalender Bali, hari raya ini dirayakan setiap 210 hari sekali. Kata Tumpek sendiri berasal dari “Metu” yang arinya bertemu, dan “Mpek” yang artinya akhir, jadi Tumpek merupakan hari pertemuan wewaran Panca Wara dan Sapta Wara, dimana Panca Wara diakhiri oleh Kliwon dan Sapta Wara diakhiri oleh Saniscara (hari Sabtu). Sedangkan Landep sendiri berarti tajam atau runcing, maka dari ini diupacarai juga beberapa pusaka yang memiliki sifat tajam seperti keris.


Dalam perkembangan zaman dan teknologi, perayaan hari raya Tumpek Landep tidak hanya mengupacarai benda-benda sakral/pusaka seperti keris dan peralatan persenjataan, melainkan juga benda-benda lain yang memiliki manfaat positif yang memberikan kemudahan dalam segala aktivitas dan kehidupan manusia. Adapun benda-benda tambahan yang juga sering kita lihat diupacarai para hari tumpek landep ini antara lain : motor, mobil, sepeda, computer, laptop, mesin pabrik, dan benda-benda lainnya.


Bagi umat hindu di Bali, senjata yang paling utama dalam kehidupan ini adalah pikiran, karena pikiranlah yang mengendalikan semuanya yang ada. Semua yang baik dan yang buruk dimulai dari pikiran, maka dari itu dalam perayaan hari Tumpek Landep ini kita diharapkan agar senantiasa menajamkan pikiran lewat kecerdasan dan mengendalikan pikiran lewat norma-norma agama dan budaya.


Begitu tingginya filosofi orang-orang Bali yang sangat memaknai segala sesuatu yang ada di dalam kehidupannya. Ini juga yang membuat Bali dikenal sangat unik dan eksotis bagi orang-orang yang pernah mengunjunginya. Hendaknya budaya-budaya nusantara seperti inilah yang sepatutnya kita lestarikan sebagai bentuk warisan para leluhur, yang menunujukkan jati diri dan karakter bangsa di tanah Nusantara. Semoga segala pikiran yang baik datang dari segala penjuru.


Pinandita I Ketut Adi Wibardi 


Sumber: kalenderbali.org

Sabtu, 25 Juni 2016

Makna Hari Raya Saraswati

Makna Hari Raya Saraswati Bagi Umat Hindu, Hari raya Saraswati adalah hari yang penting bagi umat hindu, khususnya bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan karena Umat Hindu mempercayai hari Saraswati adalah turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia untuk kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan meningkatkan keberadaban umat manusia. Hari raya Saraswati diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada hari Saniscara Umanis wuku Watugunung.
Hari Raya Saraswati adalah hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, jatuh pada tiap-tiap hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Pada hari itu kita umat Hindu merayakan hari yang penting itu. Terutama para pamong dan siswa-siswa khususnya, serta pengabdi-pengabdi ilmu pengetahuan pada umumnya.
Dalam legenda digambarkan bahwa Saraswati adalah Dewi/ lstri Brahma. Saraswati adalah Dewi pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan.
Beliau disimbolkan sebagai seorang dewi yang duduk diatas teratai dengan berwahanakan se-ekor angsa (Hamsa) atau seekor merak, berlengan empat dengan membawa sitar/veena dan ganatri di kedua tangan kanan, tangan kiri membawa pustaka dan tangan kiri satunya ikut memainkan gitar membawa sitar/veena dan ganatri di kedua tangan kanan, tangan kin membawa pustaka dan tangan kiri satunya ikut memainkan veena atau bermudra memberkahi.
 
Makna dan simbol-simbol ini adalah:
1. Berkulit putih, bermakna: sebagai dasar ilmu pengetahuan (vidya) yang putih, bersih dan suci.
2. Kitab ditangan kiri, bermakna: Semua bentuk ilmu dan sains yang bersifat se-kular. Tetapi walaupun vidya (ilmu pengetahuan spiritual) dapat mengarahkan kita ke moksha, namun avidya (ilmu pengetahuan sekular jangan diabaikan dulu). Seperti yang dijelaskan Isavasya-Upanishad: “Kita melampaui kelaparan dan da-haga melalui avidya, kemudian baru melalui vidya meniti dan mencapai moksha.”
3. Veena, bermakna : seni, musik, budaya dan suara AUM. Juga merupakan simbol keharmonisan pikiran, budhi, kehidupan dengan alam lingkungan.
4. Ganatri di tangan kanan, bermakna: Ilmu pengetahuan spiritual itu lebih berarti daripada berbagai sains yang bersifat secular (ditangan kiri). Akan tetapi bagaimanapun pentingnya kitab-kitab dan ajaran berbagai ilmu pengetahuan, namun tanpa penghayatan dan bakti yang tulus, maka semua ajaran ini akan mubazir atau sia-sia.
5. Wajah cantik jelita dan kemerah-merahan, bermakna: Simbol kebodohan dan kemewahan duniawi yang sangat memukau namun menye-satkan (avidya).
6. Angsa, melambangkan: Bisa menyaring air dan memisahkan mana kotoran dan mana yang bisa dimakan, mana yang baik mana yang buruk, walaupun berada di dalam air yang kotor dan keruh maupun Lumpur, (simbol vidya).
7. Merak , bermakna: berbulu indah, cantik dan cemerlang biarpun habitatnya di hutan. Dan bersama dengan angsa bermakna sebagai wahana (alat, perangkat, penyampai pesan-pesannya).
8. Bunga Teratai, bermakna: bisa tumbuh dengan subur dan menghasilkan bunga yang indah walaupun hidupnya di atas air yang kotor.
Upacara pada hari Saraswati, pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai Widhi widhana (bebanten = sesajen) terdiri dari peras daksina, bebanten dansesayut Saraswati, rayunan putih kuning serta canang-canang, pasepan, tepung tawar, bunga, sesangku (samba = gelas), air suci bersih dan bija (beras) kuning.
Pemujaan Tirtha Saraswati dilakukan mempergunakan bahan-bahan: air, bija, menyan astanggi dan bunga.
  • Ambil setangkai bunga, pujakan mantra: Om, puspa danta ya namah.
  • Sesudahnya dimasukkan kedalam sangku. Ambil menyan astanggi, dengan mantram “Om, agnir, jyotir, Om, dupam samar payami“.
  • Kemudian masukkan ke dalam pedupaan (pasepan).
  • Ambil beras kuning dengan mantram : “Om, kung kumara wijaya Om phat“.
  • Masukkan kedalam sesangku.
  • Setangkai bunga dipegang, memusti dengan anggaranasika, dengan mantram:
Mantra :
Om, Saraswati namostu bhyam Warade kama rupini Siddha rastu karaksami Siddhi bhawantu sadam.
 Artinya :
Om, Dewi Saraswati yang mulia dan maha indah,cantik dan maha mulia. Semoga kami dilindungi dengan sesempurna-sempurnanya. Semoga kami selalu dilimpahi kekuatan.
Mantra :
Om, Pranamya sarwa dewanca para matma nama wanca. rupa siddhi myaham.
Artinya :
Om, kami selalu bersedia menerima restuMu ya para Dewa dan Hyang Widhi, yang mempunyai tangan kuat. Saraswati yang berbadan suci mulia.
Mantra :
Om Padma patra wimalaksi padma kesala warni nityam nama Saraswati.
 
Artinya :
Om, teratai yang tak ternoda, Padma yang indah bercahaya. Dewi yang selalu indah bercahaya, kami selalu menjungjungMu Saraswati.
  • Ucapkan mantra berikut:Sesudahnya bunga itu dimasukkan kedalam sangku. Sekian mantram permohonan tirta Saraswati. Kalau dengan mantram itu belum mungkin, maka dengan bahasa sendiripun tirta itu dapat dimohon, terutama dengan tujuan mohon kekuatan dan kebijaksanaan, kemampuan intelek, intuisi dan lain-lainnya.
  • Setangkai bunga diambil untuk memercikkan tirtha ke pustaka-pustaka dan banten-banten sebanyak 5 kali masing-masing dengan mantram:
    • Om, Saraswati sweta warna ya namah.
    • Om, Saraswati nila warna ya namah.
    • Om, Saraswati pita warna ya namah.
    • Om, Saraswati rakta warna ya namah.
    • Om, Saraswati wisma warna ya namah.
  • Kemudain dilakukan penghaturan (ngayaban) banten-banten kehadapanSang Hyang Aji Saraswati
  • Selanjutnya melakukan persembahyangan 3 kali ditujukan ke hadapan :
    • Sang Hyang Widhi (dalam maniftestasinya sebagai Çiwa Raditya).
    • Sang Hyang Widhi (dalam manifestasinya sebagai Tri Purusa)
    • Dewi Saraswati.
MANTRAM :
Om, adityo sya parajyote rakte tejo namastute sweta pangkaja madyaste Baskara ya namo namah.
Om, rang ring sah Parama Çiwa Dityo ya nama swaha.
 
Artinya :
Om, Tuhan Hyang Surya maha bersinar-sinar merah yang utama. Putih Iaksana tunjung di tengah air, Çiwa Raditya yang mulia.
Om, Tuhan yang pada awal, tengah dan akhir selalu dipuja.
MANTRAM :
Om, Pancaksaram maha tirtham, Papakoti saha sranam Agadam bhawa sagare. Om, nama Çiwaya.
 
Artinya :
Om, Pancaksara Iaksana tirtha yang suci. Jernih pelebur mala, beribu mala manusia olehnya. Hanyut olehnya ke laut lepas.
 
MANTRAM :
Om, Saraswati namostu bhyam, Warade kama rupini, Siddha rastu karaksami, Siddhi bhawantume sadam.
 
Artinya :
Om Saraswati yang mulia indah, cantik dan maha mulia, semoga kami dilindungi sesempurna-sempurnanya, semoga selalu kami dilimpahi kekuatan.
Meketis3 kali dengan mantram:Sesudah sembahyang dilakukan metirtha dengan cara-cara dan mantram-mantram sebagai berikut :
  • Meketis3 kali dengan mantram:
    • Om, Budha maha pawitra ya namah.
    • Om, Dharma maha tirtha ya namah.
    • Om, Sanghyang maha toya ya namah.
  • Minum 3 kali dengan mantram:
    • Om, Brahma pawaka.
    • Om, Wisnu mrtta.
    • Om, Içwara Jnana.
  • Meraup3 kali dengan mantram :
    • Om, Çiwa sampurna ya namah.
    • Om, Çiwa paripurna ya namah.
    • Om, Parama Çiwa suksma ya namah.
  • Terakhir melabahan Saraswati yaitu makan surudan Saraswati sekedarnya, dengan tujuan memohan agar diresapi oleh wiguna Saraswati

MAKNA PEMUJAAN KEPADA DEWI SARASWATI

Dewa berasal dari kata ”div” yaitu sinar/pancaran. Pengertiannya adalah bahwa Tuhan itu adalah satu, tapi mempunyai aspek-aspek dengan pancaran sinarnya yang bermacam-macam sesuai dengan fungsinya. ang bermacam-macam sesuai dengan fungsinya. Pada saat menciptakan disebut Brahma, saat memelihara disebut Wishnu, dan saat pendaurulang disebut Shiwa, dan sebagainya. Tapi sebenarnya Brahma, Wishnu, Shiva adalah satu (Trimurti).
Paradewa ini mempunyai pendamping (Shak-ti), yaitu: Brahma shaktinya Saraswati, Wishnu shaktinya Lakshmi dan Shiwa shakti-Nya Parvati (Durga). Disini Dewi Saraswati sebagai aspek Tuhan Yang Maha Esa pada saat munurunkan ilmu pengetahuan (vidya), kecerdasan, ucapan, musik, budaya dan seba-gainya. Demikian pula dijabarkan dalam konsep Gayatri yang terdiri dari tiga aspek, yaitu: Saras-wati menguasai ucapan kata, Gayatri menguasai budhi dan savitri yang menguasai nafas.
Jadi makna pemujaan Dewi Saraswati adalah memuja dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memfokuskan pada aspek Dewi Saraswati (simbol vidya) atas karunia ilmu pengetahuan yang di karuniakan kepada kita semua, sehingga akan terbebas dan avidyam (kebodoh-an), agar dibimbing menuju ke kedamaian yang abadi dan pencerahan sempurna.
Setelah Saraswati puja selesai, biasanya dilakukan mesarnbang semadhi, yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontar-lontar semalam suntuk dengan tujuan menernukan pencerahan Ida Hyang Saraswati
Puja astawa yang disiapkan ialah : Sesayut yoga sidhi beralas taledan dan alasnya daun sokasi berupa nasi putih daging guling, itik, raka-raka sampian kernbang payasan. Sesayut ini dihaturkan di atas tempat tidur, dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati.
Keesokan harinya dilaksanakan Banyu Pinaruh, yakni asuci laksana dipagi buta berkeramas dengan air kumkuman. Ke hadapan Hyang Saraswati dihaturkanajuman kuning dan tamba inumTamba inum ini terdiri dari air cendana, beras putih dan bawang lalu diminum, sesudahnya bersantap nasi kuning garam, telur, disertai dengan puja mantram:
  • Om, Ang Çarira sampurna ya namah swaha.
Semua ini mengandung maksud, mengambil air yang berkhasiat pengetahuan.

MAKNA DARI PERAYAAN DEWI SARASWATI

Dari perayaan ini kita dapat mengambil hik-mahnya, antara lain:
1. Kita harus bersyukur kepada Hyang Widhi atas kemurahan-Nya yang telah menganugrahkan vidya (ilmu pengetahuan) dan kecerdasan kepada kita semua.
2. Dengan vidya kita harus terbebas dari avidya (kebodohan) dan menuju ke pencerahan, kebe-naran sejati (sat) dan kebahagiaan abadi.
3. Selama ini secara spiritual kita masih tertidur lelap dan diselimuti oleh sang maya (ketidak-benaran) dan avidyam (kebodohan). Dengan vidya ini mari kita berusaha untuk bangun dan tidur kita, hilangkan selimut maya, sadarilah bahwa kita adalah atma, dan akhirnya tercapailah nirwana.
4. Kita belajar dan angsa untuk menjadi orang yang lebih bijaksana. Angsa bisa menyaring air, memisahkan makanan dan kotoran walaupun di air yang kotor atau lumpur. Juga jadilah orang baik, seperti buruk merak yang berbulu cantik, indah dan cemerlang walaupun hidupnya di hutan.
5. Kita masih mempelajari ilmu pengetahuan dan sains yang sekuler, tetapi harus diimbangi dengan ilmu spiritual dengan penghayatan dan bakti yang tulus.
6. Melaksanakan Sembahyang sesuai dengan kepercayaannya masing-masing secara sederhana dengan bakti yang tulus, bisa dirumah, kuil, atau pura dan lain-lain.
sumber
Selengkapnya: http://kb.alitmd.com/makna-hari-raya-saraswati-bagi-umat-hindu
Download Apps Kalender Bali di: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.alitmd.kalenderbali

Selasa, 07 Juni 2016

Memaknai Hari Buda Wage Kelawu di Zaman Uang


Banyak orang menyebut sekarang ini zaman uang. Tiada yang lebih berkuasa kini selain uang. Orang-orang kini menempatkan uang di atas segalanya. Ungkapan yang menyebut uang di masa sekarang menjadi raja ada benarnya.

Dalam pemahaman ilmuwan modern, keadaan itu disebut sebagai materialistis. Materi, terutama uang, mendapatkan posisi mahapenting dalam kehidupan manusia. Materialisme kemudian melahirkan perilaku hidup konsumtif.

Orang Bali pun kini tak luput dari pengaruh zaman uang tersebut. Budaya materialistis dan gaya hidup konsumtif kian terasa kuat dalam kehidupan masyarakat Bali.

Jika dicermati, Bali memiliki cukup banyak konsep, ajaran dan hari suci yang fungsinya untuk mengingatkan manusia agar tidak gila terhadap uang. Salah satu tradisi itu, perayaan hari Buda Wage Kelawu atau Buda Cemeng Kelawu yang jatuh saban Buda Wage wuku Kelawu. Hari raya itu kini bakal dirayakan manusia Bali pada Rabu (19/2) hari ini.

Awam memang memaknai Buda Cemeng Kelawu sebagai hari piodalan pipis. Namun, sejatinya Buda Cemeng Kelawu memiliki makna yang lebih dari sekadar piodalan pipis. Buda Cemeng Kelawu dapat disamakan dengan hari keuangan ala Bali. Pada Buda Cemeng Kelawu orang Bali diingatkan tentang hakikat uang dalam kehidupan.

Menarik dari perayaan hari suci Buda Cemeng Kelawu di kalangan orang Bali awam yakni adanya keyakinan mengenai pantangan untuk bertransaksi menggunakan uang. Di sejumlah daerah juga disebutkan saat Buda Cemeng Kelawu dipantangkan untuk membayar atau menagih utang-piutang atau pun memberikan/menyedekahkan beras kepada orang lain.

Bagi orang yang hidup dalam tradisi modern, pantangan semacam ini tentu saja sulit untuk diterima. Dinamika perekonomian masyarakat yang begitu tinggi membuat tidak mungkin untuk menghentikan transaksi menggunakan uang dalam sehari. Menghentikan transaksi berarti juga menghentikan kegiatan ekonomi. Berhentinya kegiatan ekonomi berarti kerugian.

Namun, pantangan bertransaksi menggunakan uang dan alat pembayaran sejenisnya di hari Buda Cemeng Kelawu mesti dimaknai sebagai sebuah kearifan lokal Bali dalam memandang arti dan makna uang. Orang Bali menyadari uang merupakan sesuatu yang telah menempati posisi sangat penting dalam kehidupan masyarakat saat ini. Terlebih lagi di masa serbaparadoks kini. Seperti disuratkan dalam Nitisastra, di zaman Kaliyuga yang menang adalah ia yang memiliki uang. Dengan uang, orang kini bisa melakukan apa saja untuk memuaskan keinginannya. Mulai dari membeli mobil terbaru, rumah mewah hingga membeli jabatan tinggi.

Karena begitu berkuasanya uang di zaman Kaliyuga, orang Bali senantiasa diingatkan untuk bisa mengendalikan dirinya dalam memandang, memaknai, memperlakukan serta mencari uang. Saat Buda Cemeng Kelawu, orang Bali disadarkan betapa uang bukanlah segalanya, uang bukanlah dewa. Dengan membiarkan uang diam, tidak dibayarkan dan tidak beredar, orang Bali diingatkan tentang hakikat uang. Yang berkuasa atas segala dunia ini adalah Yang Maha Agung, Yang Mahasumber, Yang Maha Pencipta.

Dalam suatu kesempatan, budayawan I Wayan Geria menyatakan sepatutnya Bali bersyukur karena memiliki modal yang sangat penting dan kuat yakni budaya. Hanya saja, modal itu selama ini dimaknai sebagai benda semata. Inilah yang kemudian mendorong lahirnya budaya materilialisme dan gaya hidup konsumtif.

Modal sebagai budaya, nilai-nilai atau konsep-konsep hidup dilupakan. Diperparah lagi dengan pengaruh globalisasi, modal budaya itu semakin ditinggalkan. Globalisasi, menurut Geria, memang ditularkan melalui tiga hal penting yakni teknologi, media dan ideologi. Namun, teknologi, media dan ideologi juga dipahami sebagai benda semata, padahal lebih dari sekadar kebendaan.

“Ideologi misalnya, yang berkembang sekarang adalah ideologi pasar, ideologi uang. Semuanya diukur dengan uang,” kata mantan Dekan Fakultas Sastra Unud ini.

Hal itulah kemudian menyebabkan banyak orang kini berpikiran pragmatis atau instan. Masyarakat di lapisan bawah kini kebanyakan berpikir mudah dan cepat saja. Ketika membincang desa pakraman misalnya, yang terbayang dalam pikiran masyarakat Bali sekarang adalah seberapa besar bantuan yang diterima. Padahal, desa pakraman menyangkut hal-hal yang sangat esensial dalam pengembangan kebudayaan Bali, lebih dari sekadar bantuan material.

Para pemimpin atau tokoh-tokoh berpengaruh di Bali juga mengikuti irama itu. Tatkala hendak mencalonkan diri sebagai gubernur, bupati dan anggota dewan, kebanyakan yang menghambur-hamburkan uang, ke sana-ke mari membagi-bagi uang, memberi bantuan untuk mendapat dukungan rakyat. Ini tak pelak menyebabkan masyarakat semakin berpikir pragmatis, selalu berpikir bantuan dan bantuan. Sikap mandiri menjadi sulit terbangun.

“Semestinya lapisan menengah, seperti para ilmuwan, intelektual dan cerdik-cendikia yang mengembalikan keadaan dunia agar tidak semakin terseret ke dalam kubangan budaya materilistis, jzaman serbauang. Tapi sayangnya, kalangan ilmuwan, intelektual dan cerdik-cendikia kita juga ikut kena pengaruh gaya hidup materilistis, pragmatis,” kata Geria.

Kendati begitu, Geria menilai sikap optimistis harus terus dipupuk. Salah satu upaya untuk mencegah kian parahnya gaya hidup materlistis yakni semakin meningkatkan kualitas dunia pendidikan. Pasalnya, hanya dari pendidikanlah keadaan dunia bisa dibenahi. (Sumber: balisaja) kalenderbali

Rabu, 09 Maret 2016

Sejarah Pura Dalem Balingkang

Hari ini adalah Hari Ngembak Geni, hari pertama Tahun Saka 1938. Hari ini kita bersama-sama keluarga Besar Koperasi Bakti Purnama Sari mengadakan Tirta Yatra ke Pura Dalem Balingkang. Pemedek yang tangkil naik bis sebanyak 8 bis dan 3 mobil pribadi. Jadi totalnya sekitar 150 orang.
Okey sebelum kita tangkil ke Pura Dalem Balingkang ada baiknya kita mengenal lebih dekat dengan sejarah Pura Dalem Balingkang.

Sejarah Pura Dalem Balingkang:
Pura Dalem Balingkang berdiri megah pada lahan seluas 15 hektar di wilayah Desa Pakraman Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Untuk menuju Pura Dalem Balingkang, harus turun dari Pura Pucak Penulisan menuju Banjar Paketan di Desa Pakraman Sukawana. Dari Banjar Paketan menuruni jalan berliku dengan panorama indah deretan gunung Batur, gunung Abang, dan gunung Agung menuju Pura Dalem Balingkang. Pura Pucak Penulisan merupakan hulunya Pura Dalem Balingkang, karena Pura Dalem Balingkang tepat menghadap ke Pura Pucak Penulisan. Pura Dalem Balingkang seolah-olah dikelilingi oleh tembok yang terdiri dari bubungan berupa perbukitan yang melingkari kawah gunung Batur terletak di sebelah timur, barat, utara dan selatan. Di samping itu juga dikelilingi oleh sungai Melilit yang merupakan sumber mata air bagi masyarakat sekitarnya. Pura Dalem Balingkang terletak di sebelah barat kurang lebih 2,5 kilometer dari pemukiaman atau perumahan masyarakat Desa Pakraman Pinggan. Sejarah Pura Dalem Balingkang akan dibahas dari beberapa sudut pandang, diantaranya : 1) Berdasarkan Purana Pura Dalem Balingkang tahun 2009, 2) Berdasarkan mitos masyarakat di sekitar Pura Dalem Balingkang, dan 3) Berdasarkan Kekawin Barong Landung.
Purana Pura Dalem Balingkang (2009)
Purana Pura Dalem Balingkang menyebutkan bahwa maharaja Sri Haji Jayapangus beristana di gunung Panarajon. Pada masa pemerintahannya maharaja Sri Haji Jayapangus didampingi oleh permaisuri beliau yang bergelar Sri Parameswari Induja Ketana. Beliau Sri Parameswari Induja Ketana disebut sebagai putri utama yang sangat bijak. Beliau berasal dari danau Batur yang merupakan keturunan Bali Mula atau Bali asli. Pada masa pemerintahan waktu itu yang menjabat sebagai Senapati Kuturan adalah Mpu Nirjamna. Beliau mempunyai dua orang penasehat yang bergelar Mpu Siwa Gandhu dan Mpu Lim. Mpu Lim mempunyai dayang berwajah cantik bernama Kang Cing We, putri dari I Subandar yang memperistri Jangir yaitu wanita Bali.
Setelah lama Kang Cing We menjadi dayang Mpu Lim, ada keinginan beliau Sri Haji Jayapangus untuk memperistri Kang Cing We sekaligus diupacarai. Oleh karena demikian keinginan beliau, segaralah beliau Mpu Siwa Gandhu menghadap dan memberikan saran kepada baginda raja. Bahwa kehendak baginda raja memperistri putri I Subandar yaitu Kang Cing We tidak tepat, karena baginda raja beragama Hindu sedangkan Kang Cing We beragama Buddha. Namum, nasehat Sang Dwija tidak diindahkan oleh baginda raja. Marahlah baginda raja kepada Bhagawantanya, oleh karena demikian Mpu Siwa Gandu tidak lagi menjadi penasehat di kerajaan Panarajon. Segeralah baginda melangsungkan upacara pernikahan, yang disaksikan oleh para rohaniawan dari agama Hindu maupun agama Buddha, para pejabat seperti sang pamegat, para pejabat desa, dan para karaman. Setelah beberapa lama upacara pernikahan berlalu, I Subandar mempersembahkan dua keping uang kepeng atau pis bolong untuk bekal putrinya mengabdi kepada baginda raja. Selanjutnya dikemudian hari agar baginda raja menganugrahkan dua keping uang kepeng atau pis bolong tersebut kepada rakyat beliau yang ada di seluruh pulau Bali. Sebagai sarana  upacara yajña atau kurban sampai dikemudian hari.
Bedasarkan kesepakatan Sri Haji Jayapangus dengan Kang Cing We teersebut, marahlah Mpu Siwa Gandhu terhadap sikap baginda raja. Beliau Mpu Śiwa Gandhu melaksanakan tapa brata memohon anugerah kepada para dewa agar terjadi angin ribut dan hujan lebat selama satu bulan tujuh hari. Karena memang benar-benar khusuk Mpu Siwa Gandhu melaksanakan tapa brata, maka benarlah terjadi angin puting beliung dan hujan lebat. Musnahlah keraton Sri Haji Jayapangus di Panarajon. Beliau Sri Haji Jayapangus diiringi oleh sisa-sisa abdinya mengungsi ke tengah hutan, yakni ke wilayah Desa Jong Les. Di sana beliau dengan cepat merabas semak belukar dan hutan lebat, juga dilengkapi dengan upacara dan upakara yajña.
Bangunan suci kerajaan baginda raja sekarang bemama Pura Dalem Balingkang. Kata “Dalem” diambil dari kata tempat itu yang disebut Kuta Dalem Jong Les. Adapun kata Balingkang diambil dari kata “Bali”, yaitu baginda raja  sebagai menguasa jagat Bali Dwipa. Kata “Kang” sebenarnya diambil dari nama istri beliau yang bernama Kang Cing We. Ada lagi disebutkan, pada saat baginda raja mengungsi dari Panarajon ke tengah hutan disebut Kuta Dalem. Di sana beliau berhasil memusatkan pikiran beliau sampai ke pikiran paling dalam atau daleming cita memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Beliau berhasil membangun keraton dan tempat suci di Kuta Dalem. Setelah beliau memerintah di Balingkang kembali sejahteralah seluruh kerajaan Bali Dwipa. Lebih-lebih setelah didampingi oleh kedua permaisuri beliau yang selalu duduk di kiri-kanan singasana beliau. Adapun yang mendampingi atau mengabih di kanan bergelar Sri Prameswari Induja ketana, dan di kiri bergelar Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna atau Kang Cing We. Serta para pejabat kerajaan  dan para abdi atau rakyat beliau semuanya.
Berdasarkan Mitos Masyarakat di Sekitar Pura Dalem Balingkang
Berdasarkan mitos yang berkembang pada masyarakat di sekitar Pura Dalem Balingkang. Diceritakan bahwa pada jaman dahulu ada seorang raja yang bernama Sri Jayapangus. Beliau beristana di bukit Panarajon, serta keraton beliau di Kuta Dalem. Mulanya saat beliau memerintah di Panarajon beliau mempunyai seorang permaisuri bernama Dewi Mandul atau seorang permaisuri yang tidak bisa melahirkan. Sri Jayapangus berkeinginan mempunyai seorang putra untuk meneruskan tahta atau kedudukannya di Panarajon. Namun, keinginan beliau tidak terkabulkan berhubung permaisuri tidak dapat melahirkan seorang putra. Suatu ketika beliau berjalan-jalan di Pasar Kuta Dalem, beliau bertemu dengan seorang wanita yang berwajah cantik yang merupakan putri saudagar dari Cina. Karena melihat kecantikan putri tersebut, maka ada keinginan beliau untuk mengawininya secara diam-diam. Tanpa melalui upacara yang disaksikan oleh para pejabat kerajaan, maupun tanpa sepengetahuan permaisuri beliau yaitu Dewi Mandul. Perkawinan secara diam-diam Sri Jayapangus dengan putri Cina tersebut diketahui oleh Bhatara Śiwa. Akhirnya Bhatara Śiwa mengusir Sri Jayapangus dari Panarajon karena kesalahan beliau melakukan perkawinan tanpa upacara yajña, yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang raja.
Sri Jayapangus yang diiringi oleh kedua permaisurinya menuruni bukit Panarajon, menelusuri hutan menuju arah timur laut pada saat hujan deras dan angin puting beliung. Beliau tanpa mengenal lelah terus melanjutkan perjalanan menuruni perbukitan, dan akhirnya sampai disuatu tempat yang bernama Gunung Lebih. Di sana beliau beristirahat dan melakukan pemujaan terhadap para dewa, memohon petunjuk serta memohon perlindungan-Nya. Ketika melakukan pemujaan beliau mendapat sabda atau pawisik dari para dewa agar terus melanjutkan perjalanan sampai hujan dan angin reda. Apabila hujan dan angin mulai reda, maka di sanalah beliau diperintahkan untuk memasang suatu tanda dan membangun sebuah keraton. Pada saat beliau turun dari bukit Panarajon dikenal dengan istilah Kuta Dalem Jong Les.
Mengingat sabda atau pawisik dari para dewa tersebut, beliau terus melanjutkan perjalanan menuruni bukit Panarajon yang diiringi oleh kedua permaisurinya. Akhirnya beliau sampai disuatu tempat yang bernama Dharma Anyar, yaitu tempat pertapaan bagi orang suci baik Mpu, Maha Rsi, atau yang lainnya. Setibanya beliau di Dharma Anyar hujan dan angin mulai reda,  akhirnya di Dharma Anyar beliau membangun keraton yang dikenal dengan nama Balingkang. Di sana beliau kembali menata kerajaan seperti dahulu di Panarajon. Serta didampingi oleh para Senapati Kuturan, pejabat kerajaan, dan kedua permaisurinya.
Pernikahan Sri Jayapangus dengan putri Cina yang disebut-sebut Dewi Danuh, melahirkan seorang putra yang bernama Mayadanawa. Mayadanawa dikenal dengan gelar Dalem Bedahulu yang beristana di Pejeng. Beliau berhasil dikalahkan oleh Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Lama-kelamaan bekas keraton Sri Jayapangus di Balingkang dijadikan tempat pemujaan atau tempat suci untuk memuja Sri Jayapangus dan kedua permaisurinya yang telah disucikan melalui upacara yajña. Hingga sampai sekarang dikenal dengan nama Pura Dalem Balingkang.
Berdasarkan Kekawin (geguritan) Barong Landung
Keberadaan Pura Dalem Balingkang juga termuat dalam Geguritan Barong Landung yang ditulis oleh I Nyoman Suprapta (dalam tesis Juta Ningrat, 2010), sebagai berikut :
Diceritakan seorang raja yang tersohor, bijaksana dan banyak menulis prasasti-prasasti yang memuat tentang pelaksanaan upacara keagamaan, beliau bernama Sri Haji Jayapangus tempat kerajaan beliau di Bukit Panarajon. Dalam pemerintahanya didampingi oleh seorang permaisuri yang bernama Dewi Danuh putri dari keturunan Bali Mula. Kelama-kelamaan datanglah seorang pedagang dari negeri Cina yang bernama Dewi Ayu Subandar bersama seorang putri cantik berkulit putih dan bermata sipit yang dikenal dengan nama Kang Cing We. Kang Cing We kemudian diangkat menjadi pelayan Mpu Lim. Karena Kang Cing We sering berada di keraton dan memiliki wajah yang sangat cantik, terpikatlah hati sang raja untuk memperistrinya. Dengan demikian sang raja mengumumkan kepada penggawa kerajaan dan rakyatnya untuk mempersiapkan upacara perkawinan. Mendengar kabar sedemikian rupa, maka menghadaplah salah satu Bhagawanta raja yakni Mpu Siwa Gandu. Sang Bhagawanta raja menyarankan sang raja untuk tidak mengawini Kang Cing We, karena raja tidak boleh memiliki dua permaisuri selain itu pula  Kang Cing We beragama Buddha sedangkan Sri Haji Jayapangus beragama Śiwa atau Hindu. Sang raja tidak mendengarkan nasehat sang Bhagawanta raja dan tetap besikukuh untuk mengawini Kang Cing We. Sehingga terselenggaralah upacara perkawinan tersebut. Karena Sang Bhagawanta merasa sarannya tidak diindahkan oleh Jayapangus, maka marahlah Sang Bhagawanta dan melaksanakan tapa brata menciptakan bencana, hujan lebat, gempa dan bencana lainya sehingga hancurlah kerajaan beliau. Dengan kehancuran kerajaan beliau, maka dipindahkanlah kerajaannya ke Jong Les atau Dalem Balingkang. Perkawinannya dengan Dewi Danuh memiliki seorang  putra yang bernama Mayadenawa dan diangkat menjadi raja di Bedahulu. Sedangkan perkawinanya dengan Kang Cing We tidak mempunyai keturunan. Karena lama tidak mempunyai keturunan untuk melanjutkan pemerintahanya di Dalem Balingkang. Sedangkan Dewi Danuh sudah moksa, maka sang raja meminta ijin kepada Kang Cing untuk bertapa di puncak gunung Batur. Seraya memohon anugrah agar dikaruniai seorang putra. Sesampainya di puncak gunung bertemulah dengan seorang putri yang sangat cantik, sehingga jatuh cintalah Sang raja terhadap waita tersebut. Lama sang raja tidak mengirim kabar ke keraton Dalem Balingkang maka disusullah oleh Kang Cing We ketempat pertapaan. Sesampainya Kang Cing We ditempat pertapaan dilihat sang raja sedang berkasih-kasihan dengan seorang  wanita cantik. Melihat kejadian seperti itu maka marahlah Kang Cing We dan memaki-maki wanita tersebut yang tiada lain adalah penjelmaan dari Dewi Danuh untuk menggoda tapanya sang raja. Karena merasa dirinya dimaki-maki oleh seorang manusia atau Kang Cing We. Maka marahlah Sang Dewi tersebut secepat kilat keluar api dari dahi-Nya dan api tersebut mengejar Kang Cing We dan membakarnya. Sehingga wafatlah Kang Cing We. Dengan kematian Kang Cing We sang raja pun menjadi sedih dan berduka sehingga disudahilah tapanya. Karena sang raja sebelumnya mengaku belum mempuyai istri kepada Sang Dewi, maka Sang Dewi memutuskan sang raja mendapatkan hukuman yang setimpal, dan akhirnya sang raja bernasib sama. Atas sepeninggal beliau berdua atau sang raja dan sang permaisuri dari kerajan, maka rakyatnya pun menyusul ke tempat pertapaan, dan menemukan junjunganya sudah wafat. Rakyat Dalem Balingkang menjadi sedih dan memohon ke pada Sang Dewi untuk menghidupkan kembali kedua junjunganya. Melihat ketulusan hati permohonan rakyat Dalem Balingkang tersebut maka Sang Dewi mengabulkan permohonya tetapi dalam bentuk lingga berupa Barong Landung Lanang-Istri. Kemudian Sang Dewi memerintahkan rakyat Dalem Balingkang untuk membawa kedua lingga tersebut ke Dalem Balingkang dan diberikan anugrah bahwa kedua lingga tersebut bisa memberikan perlindungan dari alam niskala atau memerintah dari alam niskala. Sesampainya di Dalem Balingkang dibuatkanlah upacara agama.
Maharaja Sri Haji Jayapangus dengan kedua permaisurinya disebutkan juga dalam prasasti Cempaga A Ib.1-2, yaitu sebagai berikut :
Ing çaka 1103 çrawanamāsa i thi nāwami çuklapakā, ma, pa, wāraning wayangwayang, irikā diwaça ājnā pāduka çri mahārāja.
Ja Hāji Jayapangus, Hārkajalañcana, sahā rājapātnidwaya pāduka Bhtāri Çri Parameswari Indujakotana, Pāduka Çri Mahādewi Çaçangkajacihnā.
Terjemahan :
Berangka tahun 1103 Çaka dan menyebut nama raja Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus Harkajalancana dan kedua orang permaisurinya masing-masing bernama Paduka Bhatari Sri Prameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Sasangkajacihna (Atmodjo, 1975).
Cerita di atas menggambarkan bahwa pada masa pemerintahan Sri Haji Jayapangus, sudah terjadi hubungan yang erat antara Śiwa dan Buddha . Bahkan kedua tokoh  agama dimaksud sudah dijadikan penasehat kerajaan, yaitu Mpu Siwa Gandhu tokoh ajaran Śiwa dan Mpu Lim tokoh ajaran Buddha. Hubungan agama juga terlihat pada perkawinan Sri Haji Jayapangus dengan Kang Cing We. Pada akhirnya terbentuk dua unsur yang berbeda yaitu unsur purusa dan pradana atau Śiwa-Buddha.
Mitologi-mitologi yang berkembang dimasyarakat dapat memperkuat sistem kepercayaan bagi umat Hindu-Buddha . Berdasarkan pada peristiwa atau kejadian yang pernah terjadi pada jaman dahulu. Seperti halnya seorang raja yang mampu memberikan perlindungan pada rakyatnya. Sehingga setelah beliau wafat disucikan berdasarkan upacara yajña. Serta dipuja atau disungsung oleh pengikutnya, kemudian beliau disebut bhatara. Pura Dalem Balingkang adalah tempat bersthananya Ida Bhatara Dalem Balingkang atau Sri Haji Jayapagus. Beserta leluhur raja-raja di Panarajon yang pernah berkuasa di Bali. Setelah disucikan dengan upacara yajña, maka Sri Haji Jayapangus disetarakan dengan Dewa Surya atau Dewa Śiwa oleh para pemuja-Nya.
Sumber (buku/penelitian) :
Atmojo, Sukarto K., 1975.  Prasasti Cempaga. Gianyar : Lembaga Purbakala dan Peniggalan Nasional.
Darma, I Wayan, 2009. Pura Dalem Balingkang di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Kajian tentang Sejarah, Struktur, dan Fungsi Pura). Skripsi. Singaraja : Undiksa.
Kadi, I Nengah. 2013. Eksistensi Palinggih Ratu Ayu Mas Subandar di Pura Dalem Balingkang Desa Pakraman Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Perspektif Teologi Hindu). Skripsi. Denpasar : IHDN.
Ningrat, I Nengah Asrama Juta, 2010. Pemujaan Bhatara Dalem Balingkang di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Perspektif Multikulturalisme). Tesis. Denpasar : IHDN.
Reuter, Thomas A., 2005. Budaya dan Masyarakat di Pegunungan Bali. Terjemahan : A. Rahman Zainuddin. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Tim Penyusun. 2006. Mengenal Pura Sad Kahyangan dan Kahyangan Jagat. Denpasar : Pustaka Bali Post.
Tim Penyusun. 2009. Purana Pura Dalem Balingkang. Denpasar : Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Informan :
Jro Kubayan Tongkok, 103 tahun (Jro Kubayan Kiwa Desa Pakraman Sukawana)
I Guru Wadri, 100 tahun (Pangelingsir Desa Pakraman Pinggan)
I Nengah Dauh , 77 tahun (Prajuru Desa Pakraman Les-Penuktukan)